Makalah Seni tari dan Drama
MAKALAH
PENDIDIKAN SENI TARI DAN DRAMA
Disusun guna
memenuhi tugas Pendidikan Seni Tari dan Drama

Disusun Oleh :
Yudha Eko
Prasetyo Utomo
15120328
4G
Dosen Pengampu :
Ari Widyaningrum, M.Pd
PENDIDIKAN GURU
SEKOLAH DASAR
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PGRI SEMARANG
2017
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala Rahmat, sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang mungkin sangat sederhana.
Makalah ini berisikan tentang pengertian, jenis, macam-macam, unsur, dan hakikat seni tari dalam pembelajaran di Sekolah Dasar. Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman dan juga berguna untuk menambah pengetahuan bagi para pembaca.
Makalah ini saya akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang saya miliki sangat kurang. Oleh karena itu saya harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.
Mei,
2017
Penulis
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR
BAB I PENDAHULUAN
- Latar Belakang…………………………………………………………………………………………………………………. 1
- Tujuan……………………………………………………………………………………………………………………………… 1
BAB II PEMBAHASAN
- Pengertian………………………………………………………………………………………………………………………. 2
- Jenis-jenis……………………………………………………………………………………………………………………….. 2
- Macam-macam ………………………………………………………………………………………………………………. 3
- Unsur……………………………………………………………………………………………………………………………… 4
- Hakikat Pendidikan Seni Tari di SD…………………………………………………………………………………. 5
- Tari Gambyong Jawa Tengah…………………………………………………………………………………………. 9
BAB III PENUTUP
- Kesimpulan…………………………………………………………………………………………………………………….. 11
- Saran…………………………………………………………………………………………………………………………….. 11
LAMPIRAN………………………………………………………………………………………………………………………………….. 12
DAFTAR
PUSTAKA……………………………………………………………………………………………………………………….. 14
BAB I
PENDAHULUAN
1.
Latar Belakang
Perjalanan
dan bentuk seni tari di Indonesia sangat terkait dengan perkembangan kehidupan
masyarakatnya, baik ditinjau dari struktur etnik maupun dalam lingkup negara
kesatuan. Jika ditinjau sekilas perkembangan Indonesia sebagai negara kesatuan,
maka perkembangan tersebut tidak terlepas dari latar belakang keadaan
masyarakat Indonesia.
Pada saat
itu, Amerika Serikat dan Eropa secara politis dan ekonomis menguasai seluruh
Asia Tenggara, kecuali Thailand. Menurut Soedarsono (1977), salah seorang
budayawan dan peneliti seni pertunjukan Indonesia, menjelaskan bahwa, “secara
garis besar perkembangan seni pertunjukan Indonesia tradisional sangat
dipengaruhi oleh adanya kontak dengan budaya besar dari luar (asing)”.
Berdasarkan pendapat Soedarsono tersebut, maka perkembangan seni pertunjukan
tradisional Indonesia secara garis besar terbagi atas periode masa pra pengaruh
asing dan masa pengaruh asing. Namun apabila ditinjau dari perkembangan
masyarakat Indonesia hingga saat ini, maka masyarakat sekarang merupakan
masyarakat Indonesia dalam lingkup negara kesatuan. Tentu saja masing-masing
periode telah menampilkan budaya yang berbeda bagi seni pertunjukan, karena
kehidupan kesenian sangat tergantung pada masyarakat pendukungnya.
Tarian daerah Indonesia dengan beraneka ragam jenis tarian indonesia seni
tari membuat indonesia kaya akan adat kebudayaan kesenian. Dengan
mengenal lebih banyak Tarian adat di seluruh provinsi di indonesia
mudah-mudahan membuat kita lebih mencintai negeri kita ini.
Tarian Indonesia mencerminkan
kekayaan dan keanekaragaman suku bangsa dan budaya Indonesia. Terdapat lebih
dari 700 suku bangsa di Indonesia: dapat terlihat dari akar budaya bangsa Austronesia dan Melanesia, dipengaruhi oleh berbagai budaya dari negeri
tetangga di Asia bahkan pengaruh barat yang diserap melalui kolonialisasi.
Setiap suku bangsa di Indonesia memiliki berbagai tarian khasnya sendiri. Di
Indonesia terdapat lebih dari 3000 tarian asli Indonesia. Tradisi kuno tarian
dan drama dilestarikan di berbagai sanggar dan sekolah seni tari yang
dilindungi oleh pihak keraton atau
akademi seni yang dijalankan pemerintah.
2.
Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan karya tulis ini guna memenuhi tugas dari Dosen Pendidikan
Seni Tari dan Drama, yaitu Ibu Ari Widyaningrum, M.Pd..
Manfaat yang dapat di peroleh oleh penyusun melalui makalah ini yaitu dapat
dimanfaatkan sebagai salah satu acuan dalam membuat makalah berikutnya,
sehingga dalam penyusunan karya tulis yang akan datang hal-hal yang sudah baik
di tingkatkan dan yang salah diperbaiki serta untuk menambah wawasan kami
mengenai seni tari di Indonesia.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Pengertian seni tari yaitu
gerak badan secara berirama yang dilakukan ditempat serta waktu tertentu buat
keperluan pergaulan, mengungkap perasaan, maksud, serta pikiran. Bunyi-bunyian
yang dimaksud musik pengiring tari mengatur gerakan penari serta menguatkan
maksud yang mau di sampaikan. Gerakan tari tidak sama dari gerakan sehari-hari
seperti lari, jalan, atau bersenam. Gerak didalam tari tidaklah gerak yang
realistis, tetapi gerak yang sudah di beri bentuk ekspresif serta estetis.
Suatu tarian sesungguhnya adalah kombinasi dari sebagian buah unsur, yakni
wiraga (raga), Wirama (irama), serta Wirasa (rasa). Ketiga unsur tersebut
melebur jadi bentuk tarian yang serasi. Unsur paling utama dalam tari yaitu
gerak. Gerak tari senantiasa melibatkan unsur anggota badan manusia.
Unsur-unsur anggota badan itu di dalam membuat gerak tari bisa berdiri dengan
sendiri, berhimpun maupun bersambungan.
B.
Jenis-jenis
seni tari
Menurut jenisnya, tari digolongkan
menjadi tari rakyat, tari klasik, dan tari kreasi baru. Dansa adalah tari asal
kebudayaan Barat yang dilakukan pasangan pria-wanita dengan berpegangan tangan
atau berpelukan sambil diiringi musik.Sedangkan berdasarkan koreografinya, jenis jenis tari dibedakan menjadi :
1.
Tari tunggal ( Solo ), Tari tunggal
adalah tari yang diperagakan oleh seorang penari, baik laki-laki maupun
perempuan. Contohnya tari Golek ( Jawa Tengah ).
2.
Tari berpasangan ( duet/pas de
duex), Tari berpasangan adalaah tari yang diperagakan oleh dua orang secara
berpasangan. Contohnya tari Topeng (Jawa Barat).
3.
Tari kelompok ( Group choreography),
Tari kelompok yaitu tari yang diperagakan lebih dari dua orang.
Dalam sebuah tarian (terutama tari
kelompok), pola lantai perlu diperhatikan. Ada beberapa macam pola lantai pada
tarian, antara lain :
1.
Pola lantai vertikal : Pada pola
lantai ini, penari membentuk garis vertikal, yaitu garis lurus dari depan ke
belakang atau sebaliknya.
2.
Pola lantai Horizontal : Pada pola
lantai ini, penari berbaris membentuk garis lurus ke samping.
3.
Pola lantai diagonal : Pada pola
lantai ini, penari berbaris membentuk garis menyudut ke kana atau ke kiri.
4.
Pola lantai melingkar : Pada pola
lantai ini, penari membentuk garis lingkaran.
C.
Macam-macam
seni tari
Macam-macam tarian yang ada di
nusantara yaitu dibagi atas Tari Tradisional, Tari Kreasi Baru dan Tari
Kontemporer. Ketiga jenis dari tarian tersebut akan dijelaskan dibawah ini.
1.
Tari
Tradisional
Di
Indonesia, hampir di setiap daerah memiliki tari tradisional. Nah, arti dari
tari tradisional yaitu suatu tarian yang berasal dari suatu daerah dan
diturunkan secara turun-temurun hingga menjadi budaya dari daerah tersebut.
Umumnya tari tradisional mengandung nilai-nilai filosofis seperti keagamaan,
kepahlawanan dsb.
Tari
tradisional di Indonesia terbagi atas dua, tari rakyat dan tari klasik
(keraton).
a.
Tari
Rakyat
Tarian
rakyat atau tarian daerah merupakan tarian yang berkembang pada masyarakat
biasa. Tarian rakyat lahir sebagai lambang dari kebahagiaan dan sukacita.
Contohnya jika musim panen tiba dan hasil panen melimpah maka masyarakat akan
berkumpul dan menari bersama untuk merayakannya. Nah, tarian rakyat terus
berkembang dan menjadi tradisi. Tarian rakyat tidak memiliki aturan-aturan baku
sehingga bentuk tariannya sangat bervariasi.
b. Tari Klasik (Tari Keraton)
Nah,
teman-teman pasti bertanya, apa yang membedakan antara tarian rakyat dengan
tari klasik? Perbedaannya yaitu tari klasik lahir dari dalam keraton atau dalam
kaum bangsawan. Karena tarian ini berkembang pada lingkungan atas, maka
masyarakat biasa dilarang untuk menarikan tarian ini. Berbeda dengan tari
rakyat, tari keraton memiliki aturan yang tertulis dan baku. Sehingga sejak
zaman tari ini lahir sampai sekarang tidak ada yang berubah.
- Tari Kreasi Baru
Kita
telah sampai pada point kedua dari jenis tarian yang ada di Indonesia.
Pembahasan mengenai tari kreasi baru di daerah tidak akan terlepas dari tari
tradisi lama. Mengapa? Karena tari kreasi baru merupakan perkembangan dari tari
tradisi yang ada. Maksudnya disini jenis tarian yang biasanya dipakai untuk
upacara ritual, adat dan keagamaan dimodifikasi oleh penata tari sehingga tari
ini bisa dinikmati khalayak umum. Contohnya yaitu Tari Rapai yang merupakan
perpaduan dari gerak tari yang berkembang di Aceh dan Semenanjung Malaya, yaitu
Tari Seudati, Saman dan Zapin.
- Tari Kontemporer
Kita
telah sampai pada point terakhir dari jenis tarian di Indonesia yaitu Tari
Kontemporer. Nah, apa sih yang dimaksud dengan tari kontemporer?. Jadi tari
kontemporer merupakan salah satu jenis tarian modern yang berkembang di
Indonesia. Tarian ini lahir sebagai reaksi atas seni tari klasik yang telah
mencapai titik akhir dalam perkembangan teknisnya. Apa bedanya tari kontemporer
dengan tari kreasi baru? Nah, seperti yang telah dijelaskan pada paragraph awal
bahwa tari kontemporer merupakan tari modern sehingga tidak ada unsure tradisi
lama lagi. Biasanya gaya tari kontemporer bernuansa unik dan memakai jenis
music dari computer. Sedangkan tari kreasi baru merupakan tari tradisi yang telah
dimodifikasi tapi tetap meninggalkan unsur asli tradisinya.
D.
Unsur
Kita telah membahas arti dari seni
tari. Seni tari yaitu gerakan anggota tubuh secara ritmik yang diikuti oleh
iringan music. Berdasarkan definisi tersebut, dapat ditarik sebuah kesimpulan
bahwa seni tari terdiri atas beberapa unsur. Unsur-unsur dari seni tari
tersebut berkaitan erat dan tidak dapat dihilangkan. Unsur-unsur dari seni tari
yaitu:
- Ragam Gerak
Gerak merupakan unsure utama dan
juga unsur estetika dari tari. Gerakan dari tari berasal dari anggota tubuh.
Anggota tubuh yang dapat digunakan untuk menari yaitu anggota tubuh bagian
atas, bagian tengah dan bagian bawah. Anggota tubuh bagian atas terdiri atas
kepala, mata dan raut wajah. Ragam gerak dari anggota tubuh bagian tengah yaitu
terdiri dari lengan atas, lengan bawah, telapak tangan, jari-jari dan ruas
jari. Sedangkan anggota tubuh bagian bawah terdiri dari Kaki. Ragam gerak pada
bagian kaki hampir sama untuk tarian di bagian timur. Perbedaannya terletak
pada tempo atau volume gerakannya.
- Bentuk Iringan
Unsur
kedua dari tarian yaitu bentuk iringan. Bentuk iringan tarian dapat berupa
jenis music iringan tari internal dan jenis music iringan tari eksternal. Jenis
music iringan tari internal yaitu iringan yang berasal dari tubuh penari itu
sendiri. Contohnya yaitu Tepukan dada dan telapak tangan pada Tarian Saman dari
Aceh dan suara “Cak” pada tari kecak dari Bali. Sedangkan jenis music iringan
tari eksternal berasal dari tabuhan alat music. Contohnya di Jawa tengah, Jawa
Timur dan Jawa Barat dikenal alat music gamelan, pelog dan salendro.
3.
Kostum
Tari
Kostum
tari merupakan suatu estetika yang tidak dapat dipisahkan dari dari wujud
tarian. Kostum tarian untuk upacara bentuknya lebih sederhana dan tidak
mementingkan estetika. Berbeda dengan kostum tarian yang digunakan untuk tarian
pertunjukan atau tarian tontonan. Kostum pada tarian tontonan atau pertunjukan
bentuknya dirancang sedemikian rupa sehingga menimbulkan kesan keindahan maupun
mendalam dari penontonnya.
4.
Pola
Lantai
Nah,
last but not the least yaitu pola lantai. Apa yang dimaksud dengan pola
lantai?. Pola lantai adalah posisi yang dilakukan baik oleh penari tunggal
maupun penari kelompok. Pola lantai pada suatu tarian dapat berupa simetris,
asimetris, lengkungan, garis lurus dan lingkaran.
Pada
tarian upacara, pola lantai biasanya berbentuk lingkaran. Menurut para ahli,
pola lantai berbentuk lingkaran menggambarkan berkaitan erat dengan sesuatu
yang sacral atau mistis. Lingkaran berpusat sebagai symbol alam dunia, berpusat
kepada bagian tertentu yang ditempati oleh alam gaib. Contoh tarian upacara
dengan pola lantai lingkaran yaitu tari kecak dari bali.
E.
Hakikat Seni Tari dalam Pembelajaran
di SD
Pembelajaran seni tari di sekolah
dasar, kaitanya dengan kurikulum K13, dan pada sisi lain orentasi materi yang
terkait pada bidang garapan, yaitu karakteristik siswa, aspek itu tentu
mengarah pada aspek budaya lokal dan nilai-nili ke-Nusantara-annya. Bahkan pada
intinya ada akar-akar budaya etnik yang bertolak pada spiritualitas, karena
sumber seni tari berkembang di berbagai wilayah etnik bersumber dari tradisi
ritual masyarakatnya. Sebagai bahan ajar dianggap oleh guru
menjadi keluasan berkreasi dan berinovasi dalam pembelajaran, secara
tidak langsung karena aspek tematik. Kemampuan berkreasi, berinovasi, dan
berimajinasi memang bukan milik seniman, tetapi juga milik guru
dalam merancang dan melaksanakan pemberlajan seni budaya di sekolah.
Konstruksi kurikulum k13 bidang Seni
budaya (dalam kaitan ini lebih dipokuskan pada seni tari) berakar dari kenyatan
tersebut di atas, tetapi dalam implementasinya tidak banyak guru yang
mencermati; memilih dan memilah. Bahkan ada kecendrungan seolah-oleh materi
yang diajarkan sudah nyata-nyata berlimpahan. Seni tari etnik di Nusantara tak
terhitung jumlahnya, semuanya dengan mudah untuk diangkat menjadi materi bahan
ajar. Bahkan inti pembelajaran seni budaya bermuara pada pembentukan nilai
dalam diri peserta didiknya, yaitu hakekat manusia yang memahami aspek
’keindahan.’, hal ini dimungkinkan mereka terangsang dam mampu menumbuhkan daya
berimajinasi, kreasi, dan berinovasi untuk membawa proses berkesenian mencapai
pada tingkat kesadaran bahwa keindahana itu adalah hakekat dari ke-Esa-an,
Tuhan.
Jika benar-benar mencermati aspek
tersebut di atas, yaitu sisi materi bahan ajar dan tujuan hasil belajar. Satu
paket ini merupakan kenyataanya proses pembelajaran. Sehingga berangkat dari
nilai ’lokal,’ pembelajaran seni budaya digali dari moral budaya atau akar dari
masyarakatnya. Sebuah strategi institusi terkait dengan pola ”konservasi”
(pelestarian) yang terus diberdayakan pada setiap guru seni. Tetapi di sisi
lain ditekankan, bahwa dasar kompetensi hasil belajar ditekankan pada produksi,
yaitu hasil unjuk kerja siswa. Pembentukan budaya masyarakat tidak dapat
direduksi dalam sebuah kelas yang dibatasi oleh jam tatap muka dan dicermati
hasil akhir, bahkan menjelajahan tematik untuk kegiatan belajarnya juga menjadi
pola ’reduksi dari proses kebudayaan masyarakat.’
Pembelajaran seni tari di sekolah dasar
setidaknya perlu memperhatikan aspek-aspek yang bersifat fungsional, yaitu:
- Siswa perlu menyadari fungsi-fungsi mekanisasi tubuh (sadar akan ruang diri) artinya sadar akan tubuhnya yang memiliki ukuran tinggi, lebar, dan berat. Kesadaran ini mengarahkan pada pemahaman teknis tentang bagaimana dan dengan cara apa tubuh itu digerakan. Tujuannya siswa tidak merasa asing terhadap anggota tubuhnya, seperti kaki, tangan, kepala, dan sistem persendiannya. Geridine Dimonstein (Ronoatmodjo, 1982:40). Inti pengalaman tari adalah menjadi siswa sadar tentang cara mengenal dan merasakan gerakan melalui persepsi kinestetik (gerak dan rasa geraknya) yang dikuasai. Ini berarti bahwa gerakan-gerakan badan merupakan hasil aktivitas otot, dan siswa mampu menghargai gerakan-gerakan yang dilakukan sebagai hasil mengembangkan “sistem pengerak tubuh” dan mampu menyadari dan menangkap fenomena gerakan di luar dirinya. Artinya pada tingkat yang paling awal adalah kemampuan mengimitasi pola gerakan dari orang lain adalah penting. Karena dari pada itu akan ditarik secara prospektif ke arah transendental, yaitu hidup. Karena hakekat hidup itu adalah ’gerak.’ Pencapaian hal ini sangat sukar agar mampu membangkitkan empati siswa, bahwa dalam kehidupan ini ada anugrah Tuhan yang menjadi kenikmatan hidup, oleh karena itu kesadaran tentang tumbuhnya rasa syukur menjadi sangat penting ketimbang siswa mampu menghafal gerakan dengan baik dan benar,
- Seni Tari sebagai Media Pembentukan Tubuh (Forming Body); Seni tari memungkinkan anak-anak untuk tumbuh dan berkembang secara wajar. Pengaktifan tubuh kaitannya dengan pola pembinaan sistem mekanisme ragawi dan juga stamina dimungkinkan agar siswa mengalami pertumbuhan yang wajar. Anak-anak yang mempunyai kebiasaan buruk, seperti jalan pengkang (bengkok), jalan dengan perut didorong ke depan, menunjuk atau menengadah serta beberapa cara berdiri tertentu akan dapat dikontrol dan dilatih secara simultan bersama unsur-unsur teknis tari sehingga arak-anak akan mengalami pertumbuhan yang wajar, Kesadaran tentang ’tumbuh’semua yang hidup di dunia ini akan mengalami perumbuhan, dari kecil, dewasa, tua, dan mati. Pola pertumbuhan ini adalah bersifat ’pasti.’ Oleh karena itu pertumbuhan harus mengalami proses penyadaran agar pertumbuhan itu menjadi berarti. Sehingga dalam pertumbuhan itu harus mengalami penyadaran tentang nilai-nilai yang memberikan arti pada kehidupan ini,
- Sasaran pembinaan sistem mekanisasi tubuh dan pembentukan tubuh adalah memungkinkan siswa sadar tentang tubuhnya sendiri dan perubahan phisik dan phisikisnya (perkembangan biologisnya). Siswa sadar dan mengenali perubahan-perubahan organ tubuhnya yang bertambah panjang, bertambah lebar, dan atau bertambah berat, bahkan pada kesadaran akan perubahan yang tubuh sensitif dan mempribadi, Kesadaran siswa mencapai kesadaran menjadi ’pribadi’ yaitu personalitas yang memiliki arti potensi dan karakteristik untuk membentuk hubungan-hubungan sosial dalam bermasyarakat.
Pada prakteknya, arahan isi
pengajaran seni tari lebih ditekankan pada pengajaran teknik-teknik
bersifat konstruktif sesuai dengan penjenjangan pendidikan, misalnya masa
prasekolah (play grop) yang mengarahkan siswa mempunyai kemampuan tubuh
yang sensitif terhadap rangsangan dari luar, terutama rangsang auditif (bunyi
dan suara) menari berdasarkan kemampuan merespon lagu, jadi tari’gerak dan
laku.’. Kemudian meningkat pada kepekaan pada ritme musikal yang sederhana,
kemampuan ritmikal. Masa pra sekolah (taman kanak-kanak) memberikan pengalaman
pada siswa agar memiliki sensitivitas imitatif (menarikuan) pola gerak
konsturktif yang sederhana dan mengenal tentang struktur (tata urutan gerak)
sederhana. Hal ini didasarkan pada penetapan kompetensi lulusan yang dirumuskan
pada pendidikan Taman Kanak-Kanak (ada yang mengajukan beberapa point).
Dasar yang telah ditumbuhkan dari jenjang pengajaran pra-sekolah, meningkat
pada pengalaman dan nilai-nilai yang terus ditumbuhkan pada jenjang usia
sekolah (SD), pengalaman yang diharapkan membentuk nilai-nilai pribadi
yang meliputi :
- Menunjukan pemahaman positif tentang diri dan percaya diri. Ini hasil dari pembentukan pribadi yang positif. Semua penampilan tari etnik di Indonesia menunjukan pola kepribadian yang positif, yaitu kegagahan, keperkasaan, kelembutan, atau kesetiaan,
- Menunjukan kemampuan untuk berinteraksi dengan orang lain dan alam sekitar. Ini hasil dari pembentukan nilai-nilai sosial untuk menyadari tentang kehidupan itu adalah proses. Jenis tari etnik daerah di Indonesia menunjukan sebuah proses untuk mencapai sebuah, yaitu tentang kejahatan akan berakhir dengan kekalahan, kebaikan akan mencapai pada keluhuran,
- Menunjukan berpikir runtut. Ini menunjukan pada nilai tentang proses menuju hasil yang dicapai. Tari etnik di Indonesia mempunyai dasar konseptual. Ada nilai-nilai pikiran, logika, dan rasionalitas.
- Berkomunikasi secara efektif, Ini menunjukan bahwa intelektualitas memimilih dan memilah adalah potensi manusia yang mampu mencapai tingkat kualitas hidup. Tari etnik di Indonesia pada dasarnya mempunyai potensi sebagai media komunikasi, tidak hanya komunikai antar manusia, namun juga sebagai media komunikasi dengan roh dan alam semesta,
- Terbiasa hidup sehat, ini adalah nilai yang mengarah pada penghargaan tentang hidup, sehingga hidup itu adalah memiliki arti penting. Tari etnik di Indonesia menujukan dasar pembentukan dan pemeliharaan tubuh, sehingga mampu mempertahankan kecantikan, keperkasaan, dan ketangkasan,
- Menunjukan kematangan fisik. Ini adalah nilai yang menghargai tentang fungsi tubuh/badan sebagai media untuk mencapai tingkat ketrampilan. Bahwa hidup ini akan dihadapakan pada sejumlah pekerjaan. Semua jenis tari etnik di Indonesia diperoleh dari hasil kedisiplinan dan kerja keras, karena di dalamnya memiliki konsep tentang nilai estetik yang tinggi.
Pada jenjang pendidikan dasar (SD) yang
umumnya dibagi menjadi dua; 1) siswa kelas rendah (kelas 1 – 3) yang menekankan
pada kemampuan gerak konstruktif yang sederhana (gerak berpola) dan peningkatan
kemampuan menangkap pola irama. 2) siswa klas tinggi (2-3) yang menekanakan
pada kemampuan gerak konstrukif bertema, bermain peran. Pola gerak yang
bersumber dari tari etnik sangat potensial materi bahan ajar, di samping
melanjutkan membina intraksi sosial pada diri setiap individu siswa. Jenjang
pendidikan tinggi adalah masa pembinaan kemampuan mengekspreiskan sturktur tari
dalam pengertian yang sesungguhnya, yaitu mengarahkan siswa mengenal
nilai-nilai budaya dan nilai artistik. Maka kreativitas dan kemampuan
mengekspresikan karya tari adalah menjadi tekanan utama. Artinya pendidikan
seni membawa siswa pada kesadaran mengekspresikan berbagai realitas yang
dialami dan atau diserap dari lingkungan sekitarnya.
Dalam pada itu kompetensi pendidikan
seni tari dapat dikemukakan sebagai berikut; 1) menyadari tentang tubuh sebagai
instrumen teknis yang berkaitan dengan pengembangan gerak, baik sebagai alat
berekspresi ataupun sebagai alat komunikasi sosial, 2) pengkondisian tubuh
mengenal materi tari yang memiliki muatan teknis, artistik, dan nilai budaya se
tempat, 3) penyadaran tentang tubuh itu memiliki kemampuan berekspresi, dan
sekaligus mengapresiasi berbagai hal yang terjadi disekitarnya.
Menyimak fungsi pendidikan seni tari
seperti terpaparkan di atas, maka penerjemahkan dalam kurikulum K13 bidang seni
tari dimungkinkan, setidaknya yang terimplementasikan dalam pembelajaran
lebih menekankan pada upaya guru membentuk situasi belajar dan pengalaman
berlajar seni yang bersifat traspormatif, yaitu menjadikan siswa mampu mewarisi
nilai-nilai etnik sebagai kekayaan budaya bangsa Indonesia.
Para pengajar yang tidak paham tentang
pendidikan seni, hasil belajar hanya satu, yaitu kemampuan siswa untuk
memperoleh kemampuan presentasi di depan publik. Titapi jika guru mampu
mencerna lebih mendalam tentang fungsi pendidikan seni tari. Tentunya tidak
demikian, belajar menari ada yang tidak mendorong siswa tampil di depan publik.
Mereka dapat saja menari untuk memahami aspek kehidupan ini lebih jeli, lebih
kritis, lebih mendalam. Langkah yang diperlukan adalah menyajikan seni tari benar-benar
sebagai materi pendidikan. Dasar dari pendidikan seni adalah sebuah proses
untuk mengembangkan sikap estetik siswa, dengan tujuan agar siswa mampu
mengembangkan potensi dirinya agar mampu mempertahankan hidup sebagai manusia.
Pandangan yang kritis terhadap
kurikulum K13 adalah mengkritisi dan melakukan penelaahan yang lebih mendalam,
sehingga para guru seni budaya tidak terperosok pada pengajaran yang rancu.
Sehingga tidak tampak perbedaan yang nyata bagaimana hasil pengajaran pada
kelas intra dan kelas ekstra, atau pun hasil pengajaran di sanggar tari. Oleh
karena itu memasukan dalam tema-tema dan mengkaitkan secara integritet dari
berbagai bidang pengetahuan adalah sebuah ketrampilan guru kelas. Pada posisi
seperti ini, guru kelas di sekolah dasar dalam pembelajaran seni (tari) tidak
sama sekali diarahkan untuk mencapai ketrampilan siswa di bidang seni. Karena
semua pemahaman tentang seni adalah ’ketrampilan.’ Seni di sekolah dasar adalah
upaya penanaman nilai-nilai yang mampu membentuk siswa menjadi pribdi yang
memiliki karakteristik positif dan mampu hidup mandiri dalam masyarakat.
Tari gambyong merupakan tarian tradisional yang berasal dari
daerah Surakarta, Jawa Tengah. Tarian ini sering kali ditampilkan dalam
acara-acara besar atau festival-festival tertentu.
Banyak para wisatawan mancanegara yang menyukai tarian gambyong
ini karena tariannya mempunyai keunikan tersendiri. Apa saja keunikan dan ciri
khas dari tari gambyong ?
Jika kamu penasaran, maka simaklah artikel dibawah ini yang akan
membahas tentang sejarah tari gambyong, ciri khas, gerakan, iringan musik,
serta kostum yang digunakan pada saat menari tarian ini. Berikut penjelasannya
:
- Sejarah Tari Gambyong
Tari gambyong merupakan salah satu tari tradisional yang berasal
dari daerah Surakarta, Jawa Tengah. Pada awalnya tari gambyong ini hanyalah
sebuah tarian jalanan atau tarian rakyat. Tari gambyong juga merupakan tari
kreasi baru dari perkembangan tari tayub. Tari gambyong dipertunjukkan pada
saat upacara panen dan hendak akan menanam padi. Masyarakat percaya tarian ini
untuk memanggil Dewi Sri atau Dewi Padi agar ia memberikan berkah kepada sawah
mereka dengan hasil panen yang maksimal.
Nama gambyong sendiri sebenarnya berasal dari nama seorang penari
kondang pada masa itu, Sri Gambyong lah namanya. Sri Gambyong yang mempunyai
suara yang sangat merdu dan keluwesan dalam menari telah menarik perhatian
banyak orang. Pertunjukkan seni tari tayub yang dilakukannya di jalanan, bagi
banyak kalangan di anggap mempunyai keunikan dan ciri khas yang membedakan
tariannya dengan tarian penari-penari lainnya. Sehingga semua masyarakat di
wilayah Surakarta pada masa itu mengenal dia. Atas permintaan dari Sinuhun Paku
Buwono IV yang pada saat itu memerintah kesunanan Surakarta, Sri Gambyong
menyelenggarakan pementasan dilingkungan kraton Surakarta.
Sejak saat itulah tarian yang di bawakan oleh Sri Gambyong
dinamakan sebagai Tari Gambyong. Sebelum pihak kraton Surakarta menata ulang
dan mempatenkan struktur gerakannya, tarian gambyong ini merupakan tarian
rakyat yang digunakan sebagai acara ritual sebelum bercocok tanam. Tujuannya
agar tanaman yang masyarakat tanam diberikan kesuburan dan diberikan panen yang
melimpah. Dan setelah masuk di lingkungan kraton, tarian gambyong ini sering
dijadikan sebagai tarian hiburan dan penyambutan untuk tamu kehormatan.
Namun seiring dengan perkembangannya zaman, tari gambyong ini mulai di
tampilkan di kalangan masyarakat luas dan menjadi salah satu tarian tradisional
untuk daerah Jawa Tengah.
Gerakan tarian gambyong lebih menonjolkan gerakan pada kaki,
tangan, tubuh, dan kepala. Untuk gerakan dasarnya yang menjadi ciri khas tarian
ini adalah gerakan kepala dan tangan. Pandangan mata penari sering melihat ke
arah jari tangan seiring dengan gerakan tangannya. Pada gerakan kaki bergerak
secara harmonis mengikuti alunan musik pengiring. Dengan gerakan yang bertempo
pelan, penari menari lemah gemulai yang menggambarkan sebuah kelembutan dan
keindahan seorang wanita. Pada penampilannya, tari gambyong terdiri dari tiga bagian
yaitu gerakan awal (maju beksan), gerakan utama (beksan), gerakan penutup
(mundur beksan). Saat menari penari sering memperlihatkan ekspresi wajah yang
anggun dengan senyuman yang indah. Tidak sedikit pula saat ini generasi muda di
Surakarta yang tertarik untuk belajar warisan tarian daerah gambyong tersebut.
Dibeberapa sanggar seni, tarian gambyong biasanya mempunyai kelas khusus.
Beberapa pengembangan dan inovasi-inovasi baru terus dilakukan,
hingga menghasilkan beberapa jenis tarian gambyong seperti gambyong sala
minulya, gambyong ayun-ayun, gambyong gambirsawit, gambyong dewandaru, gambyong
mudhatama, gombyang apangkur, dan gombyang campursari.
- Gerakan tari gambyong
sebenarnya merupakan sebuah tari kreasi yang mana
gerakan-gerakannya sebagian besar berasal dari tari tayub. Berbeda dengan tari
tayub, pada tarian gambyong pada umumnya dilakukan pada garis dan gerak yang
jauh lebih besar. Adapun unsur estetis dari gerakan tarian gambyong ini
terletak pada kekompakan para penarinya. Para penari gambyong akan menggerakan
tangan, kaki, dan kepala secara bersamaan selaras dengan irama
kendan. Gerakan mata akan selalu mengikuti gerakan tangan
yang menjadikan tarian ini harmonis.
Untuk mengawali tarian gambyong, pada umumnya pertunjukan dibuka
dengan gending pangkur. Gending pangkur merupakan bagian maju beksan yang
artinya nyanyian awalan tarian yang dilakukan untuk mengundang para penari
naik ke atas panggung. Tari gambyong sendiri terbagi menjadi 3 bagian yaitu
maju beksan, beksan, dan mundur beksan.
- Kostum Tari Gambyong
Pada saat menari, para penari gambyong harus menggunakan kostum
khusus berupa kemben yang bahunya terbuka sampai bagian dadanya. Dan
menggunakan kain panjang bermotif batik sebagai bawahannya. Para penari juga
menggunakan selendang sebagai pelengkap kostum tarian gambyong ini. Biasanya
selendang yang digunakan bewarna kuning.
Menurut masyarakat sekitar warna kuning melambangkan kekayaan dan
hijau sebagai lambang kesuburan. Para penari gambyong juga di rias sangat
cantik agar terlihat mempesona ketika menarikan tarian gambyong ini.
- Iringan Musik Tari Gambyong
Tari gambyong akan selalu diiringi dengan alat musik berupa
gamelan dan tembang Jawa. Gong, kenong, gambang, serta kendang akan selalu
dimainkan bersama-sama dengan gerak penari gambyong. Dari beberapa alat musik
tersebut, kendang merupakan alat musik yang paling istimewa. Ini dikarenakan
kendang merupakan panduan bagi para pemusik lainnya dan penari untuk melakukan
gerakan atau bunyi tertentu. Oleh karena itu, kendang juga dijuluki sebagai
otot tarian pada tari gambyong ini.
BAB III
PENUTUP
1.
Kesimpulan
Menurut jenisnya, tari digolongkan
menjadi tari rakyat, tari klasik, dan tari kreasi baru. Sedangkan berdasarkan
koreografinya, jenis jenis tari
dibedakan menjadi tiga, yakni Tari tunggal ( Solo ), Tari berpasangan (
duet/pas de duex), dan Tari kelompok ( Group choreography). Ada beberapa macam
pola lantai pada tarian, antara lain : Pola lantai vertical, Pola lantai
Horizontal, Pola lantai diagonal, dan Pola lantai melingkar.
Macam-macam tarian yang ada di
nusantara yaitu dibagi atas Tari Tradisional, Tari Kreasi Baru dan Tari
Kontemporer.
seni tari terdiri atas beberapa
unsur. Unsur-unsur dari seni tari tersebut berkaitan erat dan tidak dapat
dihilangkan. Unsur-unsur dari seni tari yaitu: ragam gerak, bentuk iringan, kostum tari, dan pola lantai.
2.
Saran
·
Dengan
mengenal lebih banyak Tarian adat di seluruh provinsi di indonesia
mudah-mudahan membuat kita lebih mencintai negeri kita ini.
·
Sekolah seni
tertentu di Indonesia seperti Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) di Bandung, Institut
Kesenian Jakarta (IKJ) di Jakarta, Institut
Seni Indonesia (ISI) yang tersebar di Denpasar, Yogyakarta, dan Surakarta kesemuanya
mendukung dan menggalakkan siswanya untuk mengeksplorasi dan mengembangkan seni
tari tradisional di Indonesia. Beberapa festival tertentu seperti Festival
Kesenian Bali dikenal sebagai ajang ternama bagi seniman tari Bali untuk
menampilkan tari kreasi baru karya mereka.
·
Semoga seluruh masyarakat Indonesia
dapat terus menjaga dan melestarikan seni tari serta menemukan cara-cara
terbaru untuk mengatasinya agar tarian suatu daerah di Indonesia dapat terjaga
sampai generasi selanjutnya.
LAMPIRAN




DAFTAR PUSTAKA
http://www.kamusjenius.com/2015/06/pengertian-seni-tari-jenis-dan-macam.html
http://www.softilmu.com/2015/11/Pengertian-Fungsi-Unsur-Konsep-Jenis-Jenis-Seni-Tari-Adalah.html
http://sahabatnesia.com/tari-gambyong-jawa-tengah/
Komentar
Posting Komentar